Bandung Menuju Kota Literasi, Buku Jadi Sarana Healing hingga Penguat Daya Pikir Kritis
Gema1.com, Wali
Kota Bandung, Muhammad Farhan berkomitmen menjadikan Kota Bandung
sebagai pusat pengembangan literasi nasional. Menurutnya, Bandung
memiliki modal ekosistem yang sangat kuat karena ditopang oleh banyak
perguruan tinggi ternama yang kualitasnya diakui secara nasional.
Hal tersebut disampaikan Farhan saat menghadiri acara BFC Talks di Perpustakaan Ajip Rosidi, Kamis 23 Januari 2026 malam.
“Kota
Bandung itu harus jadi kota tempat pengembangan literasi. Karena di
kota ini berdiri banyak sekali lembaga pendidikan tinggi, dan rata-rata
terbaik se-Indonesia. Artinya, kita sudah punya modal ekosistem yang
sangat jadi, tinggal memastikan ekosistem ini tidak terbuang percuma,”
kata Farhan.
Ia menilai, forum diskusi literasi bersama para
pemangku kepentingan, termasuk Ketua Komisi XIII DPR RI Willy Aditya,
menjadi ruang penting untuk menghidupkan kembali gagasan dan usulan
terkait pengembangan literasi khususnya pemanfaatan buku di tengah
masyarakat.
Farhan menilai, buku tidak lagi boleh dipandang
semata sebagai sumber pengetahuan. Lebih dari itu, buku memiliki fungsi
sosial yang nyata dan berdampak langsung pada kehidupan manusia.
“Hal
yang kita cari sekarang adalah pembuktian bahwa buku itu punya fungsi
sosial. Bukan hanya sekadar orang mencari tahu sesuatu, tapi buku juga
bisa memberi dampak langsung. Salah satunya dengan menjadikan membaca
buku atau membacakan cerita sebagai bagian dari healing trauma,”
tuturnya.
Konsep tersebut, lanjut Farhan, selama ini lazim
diterapkan di wilayah bencana. Ia meyakini pendekatan serupa relevan
diterapkan di Kota Bandung yang memiliki tingkat stres masyarakat cukup
tinggi.
Dalam konteks peran pemerintah, Farhan menyebut
sedikitnya ada tiga tanggung jawab utama. Pertama, memastikan buku
berfungsi sebagai media penyimpanan memori kolektif Kota Bandung. Kedua,
menjamin ketersediaan dan akses buku bagi masyarakat. Ketiga, secara
konsisten mengajak warga membiasakan diri dengan budaya membaca, baik
melalui buku fisik maupun digital.
Sementara itu, Ketua Komisi
XIII DPR RI, Willy Aditya, menyoroti kondisi literasi nasional yang
dinilainya berada dalam situasi darurat, meskipun tingkat melek huruf
Indonesia tergolong tinggi. Hal tersebut menjadi salah satu dasar
inisiatif pribadinya merevisi Undang-Undang Sistem Perbukuan melalui RUU
Pembukuan.
“Ini hak inisiatif pribadi saya untuk merevisi
undang-undang sistem perbukuan. Basisnya tentu objektif. Angka melek
huruf kita tinggi, 98 persen untuk huruf dan di atas 92 persen untuk
angka. Tapi kalau bicara literasi, kondisinya sangat darurat,” kata
Willy.
Ia menuturkan, literasi tidak berhenti pada kemampuan
mengenal huruf dan angka, melainkan mencakup kemampuan mencerna
informasi, membangun ekosistem perbukuan yang sehat, serta menumbuhkan
daya pikir kritis masyarakat.
“Yang paling tinggi dari literasi
itu adalah berpikir kritis dan di situlah problem kita sekarang. Kita
bisa lihat sendiri toko-toko buku banyak yang gulung tikar,” ujarnya.
(kyy)
Bandung Menuju Kota Literasi, Buku Jadi Sarana Healing hingga Penguat Daya Pikir Kritis
Reviewed by Gema1.com
on
1/23/2026 02:20:00 PM
Rating:
Reviewed by Gema1.com
on
1/23/2026 02:20:00 PM
Rating:



Tidak ada komentar